Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang sangat mulia.
Setiap huruf yang kita baca dari Al-Qur’an Al-Karim itu akan dinilai 10 pahala
dari Allah Swt. Bahkan, pahala membaca Al-Qur’an itu bisa dilipat gandakan oleh
Allah saat bulan Ramadhan. Luar biasa sekali, bukan?
Pahala yang luar biasa itu sudah seharusnya bisa
memotivasi kita untuk selalu senang dan rajin membaca Al-Qur’an setiap hari.
Namun, penting untuk kita ketahui, Alquran tidak sekadar dibaca hanya dengan
bermodalkan semangat doang lho ya. Kita juga harus mengetahui ilmu-ilmu seputar
cara membaca Alquran dengan benar.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Muzammil ayat 4, Allah
memerintahkan kita membaca Alquran dengan tartil. Tartil ialah membaca Alquran
sesuai dengan makhroj dan tajwidnya. Maka dari itu, kita harus belajar makhroj
dan tajwid ya agar bacaan Alquran kita benar.
Di samping makhroj dan tajwid, ada satu pelajaran
lagi yang perlu kita pahami agar kita tidak salah dalam membaca Alquran yaitu bacaan
ghroib. Ghorib merupakan bacaan yang dianggap asing. Maksudnya, bacaan tersebut
tidak lazim seperti pada umumnya yang telah dijelaskan dalam ilmu makhroj dan
tajwid.
Untuk lebih jelasnya,berikut ini rangkuman tujuh bacaan
ghorib yang perlu kita ketahui dan pahami agar bacaan Alquran kita tidak salah
kaprah.
1. Nun wiqoyah atau nun washol di bawah (subscript)
Jika kita menemukan huruf nun kecil di bawah ayat,
hal itu berarti nun wiqayah atau disebut juga nun washol. Huruf nun kecil ini
dibaca kasroh (ni). Apabila satu huruf sebelum adanya nun wiqoyah ini berharokat
tanwin, maka huruf tersebut diubah menjadi harokat non-tanwin, yaitu
fathah-tain diubah menjadi fathah, kasroh-tain diubah menjadi kasroh, dan
dhommah-tain diubah menjadi dhommah.
Sedangkan, apabila satu huruf sebelum adanya nun
wiqoyah ini berharokat fathah, kasroh, atau dhommah, maka huruf tersebut tetap
dibaca sesuai harokatnya tanpa ada perubahan. Contohnya di QS. Al-Baqarah: 180;
Yusuf: 8; Al-Kahfi: 88; An-Najm: 50; dan Al-Jumu’ah: 11.
Misal di QS. Al-Baqarah: 180, kata khoiron – (nun wiqoyah)
– washiyyatu dibaca khoiro-nil washiyyatu.
Adapun jika ada nun wiqoyah yang berada di awal ayat, maka itu tidak dibaca (dianggap tidak ada).
2. Tanda bulatan kecil di atas (superscript)
Bacaan ghorib yang satu ini ditandai dengan adanya bulatan
berbentuk lingkaran kecil (shifir mustadir) di atas huruf. Bulatan kecil
di atas huruf ini menandakan bahwa huruf tersebut tidak boleh dibaca panjang,
baik ketika waqof (berhenti) maupun washol (bersambung). Contohnya terdapat
dalam QS. Ali Imron: 144; Al-An’am: 34; Yunus: 75 & 83; Al-Mu’minun: 46;
Al-Kahf: 14, 23, & 38; Al-Insan: 16; Yusuf: 87; Al-A’raf: 103; Muhammad: 4
& 31; Az-Zukhruf: 46; Ar-Ro’du: 30; dan Ar-Rum: 39.
Misalnya kata afaa-in
dibaca afa-in (di QS. Ali Imron: 144); kata malaa-ihim dibaca mala-ihim
(di QS. Yunus: 83).
Ada juga bulatan berbentuk lonjong (shifir
mustathil) yang berada di atas huruf. Tanda ini bermakna huruf tersebut
dibaca panjang pada waktu waqof (berhenti) dan dibaca pendek ketika bacaan washol
(bersambung). Contohnya terdapat dalam QS. Al-Kafirun: 4; Al-Kahf: 38; Al-Ahzab
di antara ayat 10-11 & di antara ayat 66-67; An-Nahl: 2; Al-Insan: 15; dan Az-Zukhruf:
81.
Misalnya di QS. Az-Zukhruf: 81, huruf na dalam
kata fa-anaa dibaca panjang jika waqof dan dibaca pendek jika washol.
Selain itu, ada juga tanda bulatan kecil di atas
huruf yang memiliki aturan khusus. Misalnya, setiap kata tsamuuda (contohnya
di dalam QS. Huud: 68; Al-Furqon: 38; An-Najm: 51) dibaca pendek jika washol
dan dibaca sukun jika waqof (menjadi: tsamuud). Aturan khusus lainnya
juga terdapat dalam QS. Al-Insan: 4 yaitu huruf la pada kata salaasila
dibaca pendek jika washol namun bisa dibaca sukun atau dibaca panjang 1
alif jika terpaksa waqof. Begitu pula di QS. Al Insan: 16, jika waqof di kata
yang bertanda bulatan kecil, maka ro-nya dibaca sukun (menjadi: qowaariir).
3. Hurufnya shod tapi dibaca sin
Bacaan ghorib yang selanjutnya adalah tulisan dan bacaan bisa berbeda, yaitu tulisan shod justru dibaca sin. Bacaan ini ada yang bersifat wajib dan ada juga yang bersifat opsional (boleh memilih). Adapun yang bersifat wajib terdapat dalam QS. Baqarah: 245 dan Al-A’rof: 69, huruf shod harus dibaca sin. Kata yab shuthu di baca yab suthu dan kata bashthotan dibaca basthotan.
Namun, ada juga yang bersifat opsional (boleh memilih), misalnya dalam QS. Ath-Thur: 37. Di dalam ayat tersebut, ada tulisan shod yang bisa tetap dibaca shod tapi boleh juga dibaca sin. Kata amhumul mushoitirun boleh dibaca tetap amhumul mushoitirun tapi boleh juga dibaca amhumul musaitirun.
4. Harokatnya fathah tapi boleh dibaca dhommah
Bacaan ghorib ini terdapat pada QS. Ar-Ruum: 54. Dalam ayat tersebut, kata dho’fin tetap dibaca dho’fin tapi boleh juga dibaca dhu’fin; kata dho’fan tetap dibaca dho’fan tapi boleh juga dibaca dhu’fan.
5. Tidak boleh membaca basmalah
Pada umumnya, membaca awal surat di dalam Al-Qur’an
pasti diawali dengan basmalah (bismillaahir rohmaanir roohim). Namun,
khusus untuk surat at-Taubah, justru kita dilarang membaca awal surat dengan
basmalah. Hukum larangan ini bersifat makruh meskipun ada ulama yang mengatakan
bahwa larangan tersebut bersifat haram.
6. Satu kata dicetak kecil yang diletakkan di atas (superscript) atau bawah (subscript) ayat
Jika kita menemukan satu kata yang ditulis kecil di
atas atau di bawah ayat, ketahuilah bahwa hal tersebut adalah bacaan ghorib.
Maka dari itu, kita harus perhatikan ayat tersebut dan baca dengan hati-hati
karena pastinya cara membaca ayat tersebut agak berbeda.
Kata yang dicetak kecil yang diletakkan di atas ayat merupakan bacaan saktah. Saktah artinya berhenti sebentar sekadar satu alif (sekitar 2-3 detik) tanpa bernafas. Bacaan saktah ada empat, yaitu di QS. Al-Kahfi antara ayat 1-2; Yasin: 52; Al-Qiyamah: 27; dan Al-Muthoffifin: 14.
Kata kecil yang ditelakkan di bawah ayat terdiri atas tiga macam ghorib, yaitu bacaan imalah, bacaan isymam, dan bacaan tas-hil.
Bacaan imalah berarti memiringkan bunyi fathah pada kasroh, yang terdapat pada QS. Huud: 41. Kata maj roohaa dibaca maj reehaa (vokal e seperti membaca kata sate).
Adapun bacaan isymam berarti bibir mencucu atau moncong di tengah-tengah dengung sebagai isyarat bunyi dhommah, yang terdapat pada QS. Yusuf: 11. Kata laata’ man-naa dibaca laata’ man-(lalu bibir moncong, lalu bibir senyum, lalu bibir moncong lagi)-naa.
Sedangkan, bacaan tas-hil berarti meringankan bunyi hamzah yang kedua yang terdapat pada QS. Fushshilat: 44. Kata a-a’-jamiyyun dibaca aa’-jamiyyun.
7. Bacaan ghorib lainnya
Ada bacaan ghorib di QS. Al-Ahqof: 4. Dalam ayat
tersebut, kata fissamaawaat, iituunii apabila washol (bersambung) dibaca
fissamaawaati’ tuunii
Selain itu, ada juga bacaan ghorib di QS. Al-Hujurat:
11. Dalam ayat tersebut, kata bi’sal–ismu dibaca bi’salismu.
Demikianlah tujuh rangkuman pelajaran ghorib. Pelajaran ini tentunya tidak bisa maksimal jika hanya dipelajari secara otodidak. Sebab, pelajaran ghorib merupakan salah satu pelajaran Al-Qur’an sehingga termasuk tsaqofah Islam. Maka dari itu, kita membutuhkan guru untuk mempelajarinya.
Referensi:
Masruri, dkk. 2015. Belajar Mudah Membaca
Al-Qur’an Ghoroibul Qur’an. Surabaya: Ummi Media Center.
Masruri & Yusuf. 2015. Belajar Mudah Membaca Al-Qur'an Jilid 6. Surabaya: Ummi Media Center.
Depag. 2014. Al-Qur’an Terjemah & Tajwid. Bandung:
Sygma.